Sejarah Buay Pemuka Peliung

PENDAHULUAN

Sejarah lokal merupakan bagian penting dalam memahami identitas, nilai budaya, dan perjalanan suatu masyarakat. Melalui tradisi lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi, masyarakat tidak hanya menjaga ingatan kolektif tentang masa lalu, tetapi juga mempertahankan nilai-nilai yang menjadi landasan kehidupan sosial mereka. Salah satu warisan sejarah yang hidup dalam masyarakat Komering adalah kisah Buay Pemuka Peliung, seorang tokoh yang diyakini memiliki peran besar dalam pembentukan identitas masyarakat di wilayah Bantan dan sekitarnya.

Kisah Buay Pemuka Peliung tidak hanya memuat cerita tentang perjalanan hidup seorang tokoh leluhur, tetapi juga menggambarkan proses terbentuknya pemukiman, hubungan kekerabatan, adat istiadat, serta asal-usul beberapa nama tempat yang hingga kini masih dikenal oleh masyarakat. Dalam tradisi masyarakat Komering, sosok Buay Pemuka Peliung dipandang sebagai figur yang memiliki keberanian, kecerdasan, keteguhan hati, serta kemampuan kepemimpinan yang dihormati oleh masyarakat pada zamannya.

Sebagai bagian dari sejarah dan budaya daerah, kisah Buay Pemuka Peliung memiliki nilai penting untuk didokumentasikan dan dipelajari. Meskipun sebagian besar bersumber dari tradisi lisan, cerita ini mengandung pesan moral, nilai persaudaraan, penghormatan terhadap adat, serta semangat menuntut ilmu yang relevan bagi kehidupan masyarakat hingga saat ini. Oleh karena itu, penulisan sejarah Buay Pemuka Peliung menjadi upaya untuk melestarikan warisan budaya lokal sekaligus memperkuat pemahaman generasi muda terhadap akar sejarah dan identitas masyarakat Komering.

SEJARAH BUAY PEMUKA PELIUNG

Dalam khazanah sejarah dan tradisi masyarakat Komering, nama Buay Pemuka Peliung bukan sekadar sebutan bagi suatu kelompok keturunan atau wilayah adat. Nama tersebut diyakini berasal dari seorang tokoh yang hidup pada masa awal perkembangan masyarakat Komering, bahkan diperkirakan sezaman dengan berdirinya Kerajaan Sekala Brak di wilayah Lampung. Sosok ini dikenal luas sebagai leluhur yang memiliki pengaruh besar dalam pembentukan identitas masyarakat di kawasan Bantan dan Negeri Pakuan.

Menurut cerita para leluhur, nama kecil Buay Pemuka Peliung adalah Datong. Sejak muda, Datong dikenal sebagai seorang perantau yang memiliki keberanian, kecerdasan, dan kesaktian yang luar biasa. Ia melakukan perjalanan ke daerah iliran untuk mencari pengalaman hidup dan memperluas pengetahuannya.

Suatu ketika, setelah menyelesaikan perantauannya, Datong berniat kembali ke daerah asalnya. Dalam perjalanan pulang, ia menumpang sebuah perahu jukung bersama sejumlah penumpang lain. Di tengah perjalanan, para penumpang sepakat memasak bekal yang mereka bawa untuk disantap bersama.

Saat itu, Datong mengeluarkan satu segantang ketan hitam, sedangkan penumpang lainnya membawa beras putih. Mereka membuat kesepakatan bahwa apabila nasi telah matang, bagian yang berwarna hitam menjadi milik Datong, sedangkan yang berwarna putih menjadi milik para penumpang lainnya.

Namun, ketika masakan tersebut matang, seluruh nasi yang ada di dalam periuk berubah menjadi hitam. Sesuai perjanjian yang telah dibuat, Datong mengambil seluruh nasi tersebut. Peristiwa ini menimbulkan kemarahan di antara para penumpang karena mereka merasa dirugikan.

Sebagai bentuk tantangan, para penumpang meminta Datong untuk menyatang atau mendorong perahu tersebut seorang diri. Datong menerima tantangan itu dengan syarat mereka harus mengambil bambu, rotan, dan kayu kemuning dari tepian Sungai Komering. Permintaan itu kemudian dipenuhi oleh para penumpang.

Tempat pengambilan bambu tersebut kemudian dipercaya menjadi asal-usul nama Desa Buluh Cawang yang sekarang berada di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir. Kisah ini menjadi salah satu penanda hubungan erat antara legenda leluhur dengan toponimi atau asal-usul nama tempat di sepanjang aliran Sungai Komering.

Setelah semua persiapan selesai, Datong mulai mendorong perahu. Dorongan pertama membuat perahu melaju dengan kecepatan luar biasa hingga memotong alur sungai. Dorongan kedua membuat laju perahu semakin cepat sehingga sebagian muatan dan penumpangnya hampir terlempar keluar.

Pada dorongan ketiga, perahu tersebut melesat bagaikan terbang dan akhirnya terbalik di suatu tempat yang kini dikenal sebagai Bantan atau Negeri Pakuan. Peristiwa itu menjadi bagian penting dari cerita asal-usul pemukiman masyarakat setempat.

Bambu yang digunakan untuk menyatang kemudian ditancapkan di bagian hulu perahu. Rotan dilemparkan ke tepi sungai sebagai tali pengikat, sedangkan kayu kemuning ditancapkan di bagian buritan. Menurut kepercayaan masyarakat, jejak-jejak peninggalan tersebut masih dapat ditemukan hingga sekarang.

Perahu yang terbalik itu oleh masyarakat dipercaya menjadi cikal bakal sebuah kawasan yang dikenal dengan nama Tebing Tinggi. Adapun lokasi tempat bambu ditancapkan dikenal dengan sebutan Gulang-Gulang. Di tempat tersebut juga terdapat situs yang diyakini sebagai tempat berpijak Datong sebelum melakukan perjalanan menuntut ilmu.

Tradisi lisan masyarakat menyebutkan bahwa Datong kemudian melakukan perjalanan jauh ke Banten Serang. Di sana ia berguru dan memperdalam berbagai ilmu pengetahuan, kepemimpinan, serta adat istiadat yang kelak menjadi bekal penting dalam kehidupannya.

Setelah beberapa tahun menimba ilmu, Datong kembali ke tanah kelahirannya. Kepulangannya disambut oleh masyarakat, dan sejak saat itu kawasan Bantan berkembang menjadi salah satu pusat pemukiman yang penting dalam sejarah masyarakat Komering.

Ketika telah dewasa, Datong jatuh hati kepada seorang gadis dari Nikan yang bernama Nimas Ujung Pali. Namun, keluarga pihak perempuan mengajukan syarat yang sangat berat sebagai tanda kesungguhan calon mempelai laki-laki.

Tidak ingin menyerah, Datong meminta petunjuk kepada Moyang Gunung Tiga yang tinggal di wilayah Gunung Tiga Muara Dua. Atas arahan tokoh tersebut, Datong mempersiapkan tujuh rakit yang masing-masing berisi berbagai jenis hewan.

Rakit pertama diisi semut dan ular melata. Rakit kedua berisi monyet serta berbagai binatang pengerat. Rakit ketiga berisi burung dan aneka unggas. Adapun rakit keempat hingga ketujuh berisi berbagai jenis binatang buas yang jumlahnya sangat banyak.

Ketika rakit-rakit itu tiba di Nikan, hewan-hewan dari rakit pertama diturunkan dan masih dapat dikendalikan oleh masyarakat setempat. Namun, setelah rakit kedua dibuka, monyet dan binatang pengerat menghabiskan berbagai persediaan makanan sehingga keadaan menjadi sulit dikendalikan.

Melihat kondisi tersebut, para tetua Nikan akhirnya mengakui keteguhan dan kemampuan Datong. Rakit ketiga hingga ketujuh kemudian ditenggelamkan di Sungai Komering. Tidak lama setelah itu, lamaran Datong kepada Nimas Ujung Pali diterima oleh keluarga besar Nikan.

Menurut cerita yang diwariskan turun-temurun, pada saat itulah Datong mengucapkan sumpah adat. Ia berpesan agar keturunan Bantan dan Nikan tidak saling menikah karena keduanya dianggap memiliki hubungan kekerabatan yang sangat dekat. Selain itu, ia juga berwasiat agar masyarakat dari kedua wilayah tersebut senantiasa menjalin persaudaraan ketika bertemu di mana pun berada.

Setelah pernikahan berlangsung, Datong memperoleh gelar adat "Buay Pemuka Peliung". Kata "Peliung" berasal dari kata "Beliung", yaitu kapak yang selalu dibawanya. Dalam dialek Komering, khususnya wilayah Bantan, pengucapan kata "beliung" lambat laun berubah menjadi "peliung". Sejak saat itulah nama Buay Pemuka Peliung melekat sebagai gelar kehormatan yang kemudian diwariskan kepada keturunannya.

Buay Pemuka Peliung dan Nimas Ujung Pali menetap di Bantan hingga usia lanjut. Ketika sang istri wafat lebih dahulu, ia dimakamkan di kampung halamannya di Nikan. Menjelang akhir hayatnya, Buay Pemuka Peliung berwasiat agar kelak dimakamkan di samping makam istrinya. Wasiat tersebut menjadi simbol kesetiaan, kasih sayang, dan penghormatan yang mendalam kepada pasangan hidupnya. Hingga kini, nama Buay Pemuka Peliung tetap hidup dalam ingatan masyarakat sebagai tokoh leluhur yang dihormati, yang jejak kisahnya terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya sebagai bagian penting dari sejarah dan identitas masyarakat Komering.


Dokumentasi